literature

Fawle chapter 09

Deviation Actions

Vantsiren's avatar
By
Published:
599 Views

Literature Text

[9]

FAWLE

Chapter 9
-First planned step-

Kasuga hanya bisa diam memperhatikan adiknya yang kini beraut serius.
Alis matanya melekuk dalam dengan tangan kiri menopang wajah tak senangnya.
Sudah hampir dua jam Arisa seperti itu.
Kasuga bangkit berdiri perlahan untuk duduk di samping Arisa yang mengabaikan buku tebal kesukaannya di telapak tangan kanan.

"Arisa.." panggil Kasuga pelan.
"Hm?" Sepertinya nada menjawab Arisa terdengar sudah cukup diperhalus karena yang bertanya adalah kakaknya.
"Ng.. Kita.. ke Arander yuk." ajak Kasuga hati-hati.

Tak Kasuga sangka, raut Arisa malah semakin parah.
Ia meluruskan posisi duduknya, kemudian menatap lurus ke depan dengan cemberut.

... Bukan.

Lebih tepatnya dengan.. amarah terpendam.

"Kenapa dia belum datang juga..??" ucap Arisa.
Kasuga menghela nafas pelan.
"Ia pasti datang kok. Mister Seiran PASTI akan datang menemuimu." kata Kasuga yang entah darimana datangnya keyakinan itu.
Yang penting ia harus menenangkan hati adiknya dulu.

"Tapi buktinya sampai sekarang dia belum datang juga." keluh Arisa.
"Ya, mungkin saja Mi-"

Tok Tok Tok

Orang pertama yang merespon ketukan pintu adalah Arisa.
Bahkan sampai berdiri.
Kasuga hanya menoleh normal.

"Masuk." ucap Arisa cepat.

Tanpa menunggu apa-apa lagi, pintu kamar Arisa terbuka pelan dengan kelanjutan munculnya seorang pelayan istana.
"Permisi, ada tamu, Princ-"

"Siapa?" sela Arisa dengan antusias.
Pelayan wanita itu sampai diam sebentar karena kaget.

"Ehm, Prince Itachi, Princess."
Kali ini Kasuga yang langsung bangun menggantikan Arisa yang kini langsung terduduk lemas kembali ke sofa empuknya.

"Dimana ia menunggu?" tanya Kasuga dengan nada antusias yang hampir sama dengan Arisa tadi.
"Di ruang tamu istana, Princess." jawab pelayan itu.

Dengan langkah ringan Kasuga hendak melangkah,
tapi langsung berhenti ketika ia ingat akan adiknya yang kini juga sedang tersiksa menunggu kedatangan seseorang.
Ia menoleh dengan wajah bingung harus berbuat apa pada Arisa yang kini duduk menyandarkan punggungnya dengan pasrah.

Menyadari tidak ada gerakan sama sekali, Arisa menaikkan kepala melihat Kasuga yang ternyata sedang memperhatikannya dengan wajah bingung.
Arisa mengerti arti ekspresi kakaknya itu.

"Pergilah, Kak. Aku baik-baik saja disini."
Ucapan Arisa belum bisa membuat Kasuga bergerak.
"Cepat. Jangan biarkan Mister Itachi menunggu lama." tambah Arisa.
Kali ini, barulah Kasuga mulai melangkah. Itu pun dengan ragu, meski akhirnya ia beranjak keluar dari kamar Arisa.

Pemilik kamar yang kini sudah ditinggal pergi oleh kakaknya kembali menyandarkan kepala dan memandang langit-langit kamarnya.
Ia menghela nafas.

"Kemana sih dia.."
~~~~~

Dengan langkah cukup cepat setelah sudah melalui lorong istana,
Kasuga beserta pelayannya berjalan menuju ruang tamu istana yang terletak di seberang ruang tahta.

Saat kedua daun pintu dibuka lebar-lebar oleh dua orang prajurit Wilergough,
mata Kasuga langsung bisa melihat sosok cowok berambut Reddish black sedang berbincang akrab dengan kedua orang tuanya.
Mereka bertiga kemudian menengok ketika menyadari kedatangan seseorang.

Secara tata krama, Itachi bangkit berdiri setelah melihat salah satu putri kerajaan ini datang.
"Itachi." ucap Kasuga yang langsung mengundang pandangan dari kedua orang tuanya
ketika mendengar anak mereka yang dengan santai memanggil Itachi langsung namanya, tidak lagi dengan kata depan "Mister".

Menyikapi perubahan kecil namun cukup mengejutkan itu, mereka memutuskan untuk tidak berkomentar apa-apa.
Hanya tersenyum saja satu sama lain.

"Ada apa datang kemari?" tanya Kasuga pada Itachi yang berdiri di seberang King dan Queen Wilergough yang duduk.
"Aku ada perlu denganmu." jawab Itachi.

"Kalau begitu, kami akan tinggalkan kalian berdua." kata ayah-ibu Kasuga yang sudah berdiri.
Itachi menunduk hormat mempersilahkan pasangan pemimpin kerajaan ini pergi keluar ruangan.

"Ada perlu apa?" tanya Kasuga sambil berjalan menghampiri setelah kedua orang tuanya sudah pergi lewat pintu lain.
Dengan perlahan Itachi menaikkan tangan kanannya untuk disambut oleh tangan kiri Kasuga.

"Aku ingin bertemu denganmu." jawab Itachi.
Kasuga mengedip sekali mendengar jawaban itu, namun ia pun tertawa kecil.
"Kukira ada keperluan yang berkaitan dengan Leveraine." ucap Kasuga.

Mendengar dugaan Kasuga, Itachi terdiam sebentar.
"Sampai sekarang Reya belum berbuat apa-apa." ucapnya.
"Benarkah?"

"Terkadang ia memang pergi ke Leveraine." tambah Itachi.
"Untuk apa?"
"Entahlah."
Kasuga berpikir sebentar.

"Kira-kira.. apa yang harus kita lakukan untuk langkah awal revolusi, ya?" ucap Kasuga.
Itachi mengajak Kasuga duduk dengan tarikan pelan melalui tautan tangan mereka.

"Kalau tentang langkah awal, kita harus menunggu keputusan dari King Kakashi terlebih dahulu.
Biar bagaimanapun, revolusi ini menyangkut bagian intern kerajaannya." kata Itachi dengan tenang sedikit cuek.

"Hm.. Itu artinya Reya pergi kesana untuk menemui King Kakashi dan membicarakan masalah revolusi ini." balas Kasuga.
Itachi hanya melirik ke samping sudut matanya, mendengar dugaan kedua Kasuga.

"Kurasa tidak juga." ucap Itachi.
Kasuga menaikkan alis.
"Maksudmu?"

Itachi menurunkan sedikit pandangannya ketika ia mengingat kembali ucapan Kakashi
yang mengatakan bahwa dia akan membantu Itachi menjaga orang yang ia sayang.

Dalam konteks pembicaraan saat itu, orang yang Itachi sayang adalah aku.
Jadi, itu artinya sudah tidak perlu diragukan lagi kalau King Kakashi itu..

"Itachi?"
Orang yang dipanggil tersentak.

"Hn?"
"Kamu kenapa?" tanya Kasuga bingung.
"Tidak apa-apa." jawab Itachi yang membuat Kasuga menaikkan alis. lagi.

"Lalu, apa maksudmu tadi mengatakan "Kurasa tidak juga"? Memang kenapa?" tanya Kasuga.
Terlihat kalau wajah Itachi kini menjadi seperti ragu menjawab pertanyaan Kasuga.

"Ya.. karena sepertinya.. mereka.."
"Mereka..?" ucap Kasuga agar Itachi cepat menyelesaikan kalimatnya.

"Mereka.. saling suka." selesai Itachi.
Kasuga kaget mendengar ucapan Itachi itu, meski sepertinya di dalam hati, Kasuga sudah tahu akan hal itu sejak dulu.
Apalagi aku memang pernah sempat mengaku kalau aku menyukainya.
Ia tersenyum.

"Mereka serasi kok." respon Kasuga.
Itachi menyandarkan pipi kirinya dengan topangan kepalan tangan kirinya.
Kasuga melihat reaksi orang di sebelahnya itu.

"Iya kan?" tanya Kasuga sambil memegang lengan kanan Itachi.
Itachi merasa dipojokkan disentuh dan ditanya seperti itu oleh orang yang memegang peran penting dalam hidupnya.

".. Hn." jawabnya setengah hati.
Kasuga tertawa.
"Melihatmu seperti ini aku menjadi merasa masih banyak sisi dari dirimu yang belum kuketahui.." ucap Kasuga.

Itachi menoleh dan memandang Kasuga dengan wajah sedikit tak menyangka, tapi ia pun tersenyum.
Tangan Itachi terangkat melepas tautan tangan mereka untuk kemudian diarahkan menuju pipi kiri Kasuga dengan perlahan.

"Kalau begitu, kamu harus lebih sering bersamaku." ucap Itachi pelan.
Wajah Kasuga memerah dan semakin merah ketika mata night black Itachi diam memandang lurus mata dove brown Kasuga yang hanya berjarak sekitar 30cm.

"Boleh aku minta sesuatu darimu?" tanya Itachi dengan pandangan yang mulai menurun dari mata Kasuga.
".. Apa?" ucap Kasuga memelan karena wajah Itachi kini mendekat dengan perlahan.

Entah kenapa, tanpa memperdulikan Itachi akan menjawab atau tidak, Kasuga sudah menurunkan kelopak matanya,
membiarkan sentuhan tangan Itachi berpindah menyentuh dagunya hingga beberapa detik kemudian
dengan sangat terasa Kasuga bisa merasakan sentuhan lembut di bibirnya yang sebenarnya tidak siap.

Namun dengan tenang dan diam, Kasuga menerima sentuhan tak terduga itu hingga ia merasa Itachi menarik kembali wajahnya,
lalu menatap Kasuga yang kini menaikkan kembali kelopak matanya dengan lambat.
Saat Itachi sudah sepenuhnya mengambil jarak, Kasuga seperti "tersadar" dan itu membuat wajahnya tiba-tiba merah padam.

Itachi cukup kaget melihat perubahan warna wajah perempuan di depannya.
"Ehm.. Maaf, apa aku salah telah menc-"
"Tidak. Tidak apa-apa.." sela Kasuga langsung yang memegang kedua pipinya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang kini terasa panas.

"Kamu tidak salah.." tambah Kasuga. Itachi pun tersenyum mendengar jawaban Kasuga.
Ia membelai kepala Kasuga dengan lembut.

"Ekspresi wajahmu membuatku belum ingin pulang." kata Itachi sambil tertawa kecil memandangi Kasuga.
Sentak Kasuga langsung diam. Wajah merahnya berangsur normal.
Tangan Itachi yang berada di samping kepala Kasuga sampai ikut diam melihat reaksinya.

"Mister Seiran!" teriak Kasuga agak kencang hingga mampu membuat orang setenang Itachi kaget.
"Seiran?" nada Itachi terdengar bingung.

"Mister Seiran sudah pulang..!" ucap Kasuga.
Mata Itachi membesar.
"Benarkah?"
Kasuga mengangguk.

"Kamu sudah bertemu dengannya?"
"Belum."
"Lalu, kamu tahu darimana?"
"Arisa melihat Red-tailed Hawk milik Mister Seiran tadi pagi."
Itachi menaikkan alis.

"Tapi belum bertemu dengan orangnya langsung?"
Kasuga menggeleng.
"Kalau begitu, kenapa tidak datang saja ke Arander?" tanya Itachi.
"Mm.. Itu.. masalah Arisa.." kata Kasuga singkat
karena ia tidak mungkin memberitahu Itachi kalau Arisa sebenarnya ingin Seiran yang datang menemuinya.
Bukan sebaliknya. Kasuga takut kalau Itachi tidak mengerti perasaan perempuan yang seperti itu.

"Kenapa pula ia malah hanya mengirim Hawk-nya? Kenapa tidak datang langsung? Bahkan aku tidak tahu ia pulang." kata Itachi.
"Iya.. Aku juga tidak tahu kenapa. Kasihan Arisa terus menerus menunggunya.."

"Menungguku ya?"
Itachi dan Kasuga kaget mendengar suara asing namun sangat familiar itu yang berasal dari belakang mereka.
Dengan reflek mereka berdua menengok bersamaan untuk mendapati seorang cowok yang berdiri dikawal oleh 6 orang prajurit Arander.

"Mister Seiran?!" Kasuga langsung berdiri diikuti oleh Itachi yang berdiri dengan kecepatan normal.
Orang yang disebut hanya tersenyum ramah.
Kasuga berlari menghampirinya sambil berkata, "Selamat datang!"
"Terima kasih." ucapnya lembut sama seperti Seiran yang pernah dikenal Kasuga delapan tahun lalu.

Dengan santai Itachi berjalan menyejajarkan diri dengan Kasuga untuk berdiri berhadapan dengan Seiran yang lebih tinggi sedikit darinya.
Kasuga memperhatikan dua orang seumuran ini yang kini hanya diam saling bertatapan.

Lama diperhatikan, tiba-tiba mereka berdua tersenyum, lalu saling memeluk satu sama lain dengan senang.
"Lama tidak bertemu, Sei." kata Itachi.
Seiran tertawa kecil.
"Iya."

"Kamu tidak banyak berubah." ucap Seiran sambil memperhatikan Itachi dari ujung bawah sampai atas.
"Terutama matamu." tambahnya.

"Mata?" Itachi menaikkan alis.
"Iya. Sorot matamu." sudut bibir Itachi naik.
"Hmpf.." respon Itachi hanya tersenyum.

"Sepertinya sudah banyak yang terlewatkan olehku." kata Seiran sambil memandangi Kasuga dan Itachi secara bergantian.
"Kalian pacaran?" tanya Seiran langsung.
Orang yang dimaksud hanya tersenyum-senyum saja.
Seiran menggeleng pelan.

"Kamu sudah besar, Kasuga." katanya sambil memegang kepala orang yang dimaksud.
"Mister juga. Sekarang terlihat dewasa." balas Kasuga yang merasa sangat senang orang yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri pulang.
"Makin keren." tambah Kasuga.
Seiran tersenyum.

"Akh..! Aku harus beritahu Arisa..!" kata Kasuga yang sudah berbalik untuk segera pergi.
"Tunggu." Dengan cepat Seiran langsung mencegahnya.

"Kenapa?" tanya Kasuga dengan nada sedikit protes dan buru-buru.
"Biar aku yang mendatanginya langsung." jawab Seiran yang membuat pikiran tak sabar Kasuga langsung berhenti.

"O-Oh, baiklah. Dia ada di kamarnya.." ucap Kasuga agak malu-malu.
Seiran tersenyum, namun sudut bibirnya perlahan naik, lalu dengan sedikit salah tingkah, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Hm.. Tak kusangka jantungku jadi berdetak lebih kencang sekarang. Kira-kira apa yang akan Arisa lakukan padaku nanti.."
Kasuga tertawa kecil mendengar nada khawatir bercampur grogi dari Seiran itu.

"Yang terpenting, temui ia dulu secepatnya. Kasihan ia sudah menunggu sejak tadi. Sampai uring-uringan."
Kata-kata terakhir Kasuga membuat nafas Seiran sedikit lebih lambat dari biasanya.

"Sudah uring-uringan? Gawat.. Sebaiknya aku pergi menemuinya sekarang."
ucap Seiran sembari mulai beranjak pergi meninggalkan 6 prajurit Arander juga Itachi dan Kasuga yang tetap berada di ruang tamu.
~~~~~

Langkah tenang namun cepat Seiran membawanya keluar dari ruang tamu
menuju tempat kemana kakinya menuntun sesuai kebiasaannya dulu yang sering datang ke istana Wilergough.

Banyak yang berubah.

Hanya kata-kata itu yang bisa merangkum semua pikiran Seiran.
Ia membetulkan letak jubah resmi Arandernya yang berwarna putih bersih dengan guratan spiral abstrak silver yang mengkilat.

Menghela nafas pelan dan memandang mantap ke sebuah pintu kayu yang besar, Seiran merasa ia sudah berada di tempat yang tepat.
Di tempat yang sering sekali ia datangi delapan tahun lalu.
Tempat yang tidak akan mungkin ia lupakan.

Tok Tok Tok

Ia mengetuk pintu tebal dan kokoh itu dengan perasaan campur aduk.
Khawatir, senang, takut, rindu, menemani dirinya yang kini juga merasa cemas menunggu di balik pintu.

"Masuk." ucap suara dari dalam yang membuat batin Seiran tersentak.
Ada rasa luar biasa besar yang ingin meluap dari dalam dirinya.
Entah kata apa yang bisa mengungkapkannya dengan tepat.

Sepertinya yang paling mendekatinya adalah kata.. rindu.

Tangan kanan Seiran langsung terangkat membuka daun pintu,
lalu mendorongnya dengan antusias yang terlihat dari kencangnya genggaman bukan dari lambatnya pintu terbuka.

Namun, tidak ada yang sepasang mata pun yang kini memandang dirinya ketika pintu sudah terbuka lebar.
Yang ada hanya sesosok perempuan yang asing di mata Seiran.
Meski ia yakin sekali perempuan itu adalah Sang pemilik suara penyentak batinnya tadi.

Perempuan itu sedang membaca dengan tenang.
Ketukan pintu tidak mengalihkan pandangannya dari buku tebal yang kelihatannya sudah habis dibaca berkali-kali olehnya.

Seiran maju satu langkah dengan sedikit ragu.

".. Arisa." panggilnya singkat.

Pemilik nama tersebut tersentak. Bukan karena ada orang yang masuk, namun karena suara,
suara familiar yang sangat terasa hingga menyadarkan hatinya.

Arisa menengok cepat ke arah Si pemanggil dengan buku masih di kedua telapak tangannya.
Pandangan Arisa yang harus menembus sepasang lensa kacamata menangkap dengan jelas figur laki-laki yang tadi memanggil namanya.
Ia langsung berdiri pada laki-laki yang juga asing di matanya. Dua pasang mata light blue terdiam tak berkedip saling bertatapan.

Bugh!

Suara kencang tertutupnya buku tebal terdengar beberapa detik kemudian.
Arisa sudah mulai memperlihatkan sebuah reaksi.

...


...


...


"Sei?"

"Ya?" jawab Seiran dengan reflek.

Jawaban Seiran sentak langsung membuat alis Arisa mengkerut dalam.
Kedua tangannya terkepal erat masih dengan buku tebal di tangan kanannya, wajahnya perlahan menurun.

Respon Seiran hanya satu.
Menelan ludah.

"Sei!" Arisa tiba-tiba berteriak memanggil.

"Ya??"

"Kenapa kamu malah diam disitu?!"

Mata Seiran agak membesar.

"Ekh.. Aku-"

"Mau aku yang kesana atau kamu yang kesini??" tanyanya dengan wajah yang masih belum terangkat.

Tanpa komentar, Seiran pun langsung menutup pintu kamar, lalu melangkah ke depan menuju Arisa yang bahunya mulai.. bergetar.
Kelopak mata Seiran menurun.
Dari jarak sedekat ini Seiran sudah bisa mendengar suara isak tangis kecil dari perempuan di depannya ini.

Arisa menghapus air matanya.
Saat itu dipergunakan Seiran untuk membelai kepala Arisa dan mendekapnya lembut ke dalam pelukannya.

Tindakan Seiran membuat air mata Arisa mengalir lebih deras dari sebelumnya.
Ia menggenggam jubah Seiran dengan erat. Mencoba meyakinkan dirinya bahwa ia tidak sedang bermimpi.
Buku tebal yang Arisa pegang terjatuh tanpa suara ke atas permadani halus sebagai alas sofa tempatnya duduk tadi.

Hati Seiran serasa tersayat-sayat mendengar tangisan Arisa.
Ia tahu perempuan di pelukannya ini tegar tapi rapuh.
Belum pernah ia melihat Arisa menangis seperti ini. Apalagi menangis karenanya.

Seiran membiarkan Arisa mengeluarkan semua perasaannya terlebih dahulu.
Ia menunggu dalam diam beberapa saat sembari memegangi bahu Arisa yang masih bergetar pelan.

"Sudah menunggu lama, ya..?" tanya Seiran pelan.
Pertanyaan basa-basi sekali..

Arisa menurunkan kepalanya sedikit.
"Delapan tahun!" jawab Arisa sambil memukul bahu Seiran dengan tangan kanannya yang bebas.

'Aw..' pukulan Arisa itu cukup terasa sakit bagi Seiran di dalam hati.

"Kamu.." ucapan pelan Arisa mengalihkan perhatian Seiran kembali.

".. sudah lupa padaku."
Seiran kaget mendengar akhir lanjutan ucapan Arisa.

"Arisa, ak-"
"Kalau Madoka tidak memanggilmu pulang, kamu pasti tidak akan pulang kan??"
Pelukan mereka langsung lepas ketika Arisa mendorong Seiran agak kuat.
Itu membuat Seiran kini bisa melihat mata basah Arisa yang memancarkan kesedihan dan kekecewaan.

Batin Seiran "tertusuk" dua kali sekaligus. Pertama karena pancaran mata Arisa. Kedua karena dugaan Arisa itu memang benar.
Kesedihan makin memasuki Arisa dengan reaksi diam dari Seiran. Arisa mengalihkan wajahnya hingga ia tidak lagi bisa melihat Seiran.

"Arisa, aku tidak meninggalkanmu dengan alasan sepele."
"Iya, aku tahu." jawab Arisa langsung.

Seiran tidak tampak kaget mengetahui kalau Arisa sudah tahu alasannya pergi.

"Aku tahu, baru tahu setelah sudah delapan tahun kamu meninggalkan aku tanpa alasan! Itu pun bukan darimu!" Arisa menambahkan selaannya.
Seiran menurunkan kelopak matanya mendengar keluhan Arisa.
"Kalau aku memberitahumu alasannya, aku tahu kamu tidak akan setuju. Tidak hanya kamu, tapi semua orang pasti tidak akan setuju." bela Seiran.

"Tapi pergi seorang diri itu keterlaluan!" Nada suara Arisa naik lagi.
Seiran menggenggam kedua pergelangan tangan Arisa yang tadi sudah terangkat untuk memukulnya.

"Pergi seorang diri akan lebih memudahkanku untuk bergerak."
Jawaban itu terdengar cukup masuk akal bagi Arisa. Ia terdiam, meski masih dengan wajah kesal.

"Arisa, dengar. Usahaku selama ini tidak sia-sia." Seiran menurunkan kedua tangan Arisa.
Arisa memandang Seiran dengan raut bertanya apa maksudnya.

"Aku sudah tahu dimana Shinju berada."
~~~~~~

-Leveraine-
Hari ini kakiku kulangkahkan lagi keluar dari portal magic milikku untuk tiba di gerbang kerajaan bersimbol petir.
Layaknya tamu "langganan", aku sudah bisa berjalan dengan santai dan tenang dikawal oleh 4 orang prajurit Foereira berbaju merah darah
yang sangat mencolok di antara kira-kira 10 orang prajurit Leveraine berbaju biru kuning.

Masih banyak pandangan sinis, bingung, juga senang melihat kedatanganku
yang sudah lebih dari 3 kali setelah hampir sepuluh tahun Leveraine tidak pernah kedatangan tamu.
Prajurit Leveraine mempersilahkan rombonganku masuk ke ruang tahta dan mencegah prajuritku ikut ketika aku mulai diantar ke ruang pribadi Kakashi.

Sebuah double door dibukakan untukku dan disambut dengan berdirinya Sang pemilik ruangan yang tadinya sedang duduk.
"Selamat siang, King." sapaku yang sudah tidak kaku lagi terhadapnya.
Ia tersenyum.

Ketika pintu ditutup, Kakashi langsung menaikkan tangan kanannya untuk menulis di udara sebuah simbol aneh yang menyala biru terang.
Seakan tahu tugasnya, ketika simbol itu selesai ditulis, tiba-tiba simbol itu melaju cepat melewati samping kananku untuk menabrakkan dirinya ke pintu.
Tabrakan itu langsung membuat simbol itu melekat dan menyebar menyelubungi dua daun pintu itu dengan cahaya kebiruan.
Sedetik simbol itu menyala lebih terang lalu perlahan mulai meredup sampai kemudian hilang tanpa bekas beserta selubung ciptaannya tadi.

Aku diam saja melihat kebiasaan yang selalu dilakukan Kakashi tiap kali aku datang kesini beberapa hari ini.

"Maaf, Princess, bisa anda kemari dan berdiri di samping saya?" kata Kakashi yang menyadarkanku.
Aku menengok.
"Ehm.. Ada apa, King?" kali ini bukan kebiasaan. Aku menaikkan alis mendengar permintaan tak lazimnya.

"Anda akan tahu nanti." katanya dengan senyum.
Permintaan plus senyum misteriusnya cukup membuatku bingung.
Namun hatiku berkata, selama yang meminta adalah Kakashi, kurasa itu pasti bukanlah sesuatu yang buruk.

Aku pun melangkah mendekatinya dan melakukan apa yang ia minta, yaitu berdiri di sampingnya.
Setelah itu, Kakashi tidak berkata apa-apa. Ia hanya menunjuk lantai tempat kami berpijak berdekatan dengan jari telunjuknya.
Dengan sekali gerakan, jarinya membuat gerakan memutar membentuk lingkaran.

Perlahan tapi pasti, lantai di bawah kami mulai bersinar kebiruan.
Beberapa saat kemudian, terbentuk sebuah lingkaran magic besar berdiameter 2m disana.
Tanpa sadar itu langsung membuatku memegang pakaian kerajaan resmi Kakashi karena kaget.

Kakashi tertawa kecil.
"Tidak apa-apa, Princess." ucapnya santai.
"T-Tapi.."
"Baiklah, kalau anda merasa takut, pegang saja tangan saya." tawarnya.
Penawaran yang tak terduga olehku. Tapi, akhirnya aku pun memegang tangan kirinya. Sedangkan tangan kiriku masih memegang pakaiannya.

"Saya akan membawa anda ke suatu tempat." katanya kemudian. Aku hanya diam saja menanggapi ucapannya.

Tiba-tiba pandanganku buram. Sempat pusing karenanya, juga karena terpaan angin yang entah datang darimana.
Tapi keduanya cepat hilang ketika pandanganku sudah normal kembali dan angin berhenti bertiup.

Sekarang yang kupandang adalah sebuah ruangan yang asing dan tidak pernah kulihat sebelumnya.
Masih setema dengan ruangan Kakashi tadi, namun perabotan, letak barang, semuanya berbeda.

Kakiku tidak beranjak sama sekali. Aku diam saja tadi.
Apa mungkin ini semacam teleport?
Lingkaran sihir di bawah kami menghilang perlahan dengan meredup.
Tangan kiriku terlepas dari pakaian Kakashi. Namun tangan kananku masih menggenggam dan digenggam olehnya.

"Dimana ini?" tanyaku spontan.
"Dimensi lain."
Aku menengok cepat.

"Ruang dimensi lain yang saya ciptakan tepat di ruang pribadi saya sendiri." jawabnya.
Aku terperangah. Baru pernah aku mendengar istilah itu. Apa jenis magic ini hanya berlaku di Leveraine?
Menarik sekali.

"Silahkan duduk, Princess." ucap Kakashi yang ternyata sudah melepas genggamannya bahkan berada di seberang ruangan di dekat sebuah sofa panjang.
"Oh." aku pun berjalan menuju tempat yang dipersilahkannya.
"Terima kasih." lalu duduk yang juga diikuti olehnya.

Aku melanjutkan pengamatanku dengan wajah kagum dan sedikit berpikir terhadap ruangan ini.
"Untuk apa anda menciptakan ruangan ini?" tanyaku.
"Untuk keprivasian diri dan untuk kepentingan seperti ini." jawabnya.

"Kepentingan seperti ini?"
"Ya. Membicarakan hal yang rahasia dan penting."

"Ehm.. Tapi bukankah selama ini kita selalu membicarakan rahasia penting? Kenapa baru sekarang.." ucapku yang tidak selesai.
"Itu karena saya merasa sepertinya tidak apa jika membawa anda kemari, Princess." lanjut Kakashi.
Aku diam sebentar.

"Tidak ada seorang pun yang tahu ruangan ini ada. Untuk saat ini, anda adalah orang kedua yang tahu setelah saya." ungkap Kakashi sambil tersenyum.
Mataku memandang Kakashi tak berkedip.
Hm.. Aku cukup merasa berarti mendengarnya.

"Oh.. Saya merasa terhormat sekali, King." jawabku senang.
"Tapi.. kenapa anda harus memberitahu ruangan ini pada saya? Bukankah kita bisa tetap berada di ruangan tadi saja seperti biasanya?
Anda selalu menyegelnya bukan?" tanyaku.
Kakashi menggeleng.

"Itu belum cukup tersegel bagi saya. Selama ruangan itu bukan ciptaan saya, tidak ada jaminan ruangan itu aman dari mata-mata."
"Mata-mata?"

Kakashi memperlihatkan raut berpikir.
"Saya.. sudah tidak berani mempercayai siapapun lagi di istana ini." ucapnya.
Tak kusangka jawaban pertanyaanku bisa seserius ini.
Aku pun akhirnya mengerti apa maksud Kakashi memakai tempat ini.

"Baiklah, bisa kita mulai pembicaraan kita?" tanyanya yang langsung merubah suasana.
"Hm- oh. Iya, King." jawabku.

Kakashi menungguku berbicara melanjutkan.
"Kedatangan saya hari ini adalah untuk memberitahu anda bahwa saya telah menyiapkan sebuah kelompok prajurit yang sudah dilatih khusus
untuk menyusup dan menginterograsi." kataku.
Orang yang kuajak bicara bergumam. Lama kutunggu, ternyata responnya adalah menghela nafas.

Sebelah alisku naik.
"Kenapa, King?" nadaku terdengar bingung.

"Saya merancang rencana penyusupan oleh kerajaan lain ke dalam kerajaan saya sendiri. Saya hanya merasa aneh." kata Kakashi.
Sorot matanya terlihat sedih. Aku menurunkan sedikit kepalaku.
"Anda tahu hanya ini jalan yang terbaik kan, King. Kita sudah membicarakan ini sebelumnya." kataku.
".. Ya, saya tahu."

"Kapanpun anda minta, saya akan langsung mengirim prajurit-prajurit itu ke Leveraine."
"Hm.. Prajurit yang dilatih khusus, ya?"
"Ya, karena dilatih langsung oleh kakak saya." jawabku bangga.

"Oh, begitu. Pasti tidak akan mengecewakan."
"Tentu saja."

Kakashi tersenyum.
"Kalau begitu secepatnya saya akan memberitahu kapan mereka harus dikirim kemari."
~~~~~

"Kakashi."

Mata dark grey Kakashi bisa menangkap sosok pamannya setelah ia menengok ke belakang.

"Ada apa, Fugeno-san?" tanyanya.
"Apa yang dilakukan putri api itu disini? Kenapa ia datang terus kemari?" tanya Fugeno agak kesal.

"Memang kenapa, Paman?" jawaban Kakashi santai sekali.
Emosi Fugeno naik.
"Kamu ini raja macam apa sih?? Tidak mengerti sikon sekali. Dia itu putri Foereira!" Fugeno berusaha menyadarkan keponakannya itu.

"Ya, aku tahu. Lalu?"
Wajah Fugeno kini menjadi sedikit merah karena ada laginya kenaikkan emosi.

"Dia bisa menjadi ancaman besar untuk kerajaan kita!" jelas Fugeno dengan marah.
Kakashi hanya menyikapinya dengan senyum kecil.

"Tapi, bisa menjadi bantuan besar juga kan?"
Kemerahan wajah Fugeno berkurang setelah mendengar jawaban Kakashi.
Perlahan senyum kecil ikut menghiasi bibir Fugeno.

"Ooh.. Pintar, Kakashi.. Perhitungan yang matang. Bagus sekali.."

***
maap lama updatenya..
banyak halangan.. hehe

semoga tak mengecewakan!
© 2009 - 2026 Vantsiren
Comments6
anonymous's avatar
Join the community to add your comment. Already a deviant? Log In
Vantsiren's avatar
the, karakter seiran ma arisa nya gmana?
ada yg kurang berkenan di hati ga? aneh gt?